Sering kita dengar bahwa sabar itu memiliki batas, atau bahkan kita pun memiliki prinsip demikian, yakni sabar ada batasnya. Perlu kita ketahui bahwa sabar dan menyerah hampir memiliki respon diri yang sama, maka perlu kita pahami apakah kita sedang bersabar atau kita menyerah. Maka, tulisan ini akan sedikit membahas mengenai apa itu kesabaran, kemudian penulis akan membahasnya dengan menggunakan perspektif Tafsir Al-Ibriiz karya KH. Bisri Mustofa.

Sabar sendiri adalah pengendalian diri terhadap protesnya hati terhadap hal-hal yang tidak kita inginkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi peringatan dalam Qs. al-Ma’arij [70]: 5 tentang kesabaran ini.

فَٱصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا

“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.

Kata sabar berasal dari bahasa arab yakni as-Shabru, masdar dari fi’il madhi yang memiliki arti menahan diri dari keluh kesah. As-shabru juga dekat dengan kata As-Shibr yang artinya jadam, jadam adalah obat yang sangat pahit. Sabar menurut M. Quraish Shihab adalah menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginan demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik.

Lalu, kapan kita harus bersabar?

Para ulama mengelompokkan tiga jenis kesabaran yang harus kita miliki, dan ini menentukan derajat-derajat kesabaran itu sendiri.

  1. Sabar dalam ketaatan (As-Shabru ‘ala At-Ta’ath)

Sing sopo wonge sabar, ora males lan ngapuro, temenan sabar lan ngapuro iku perkoro kang den suprih, mungguhe sara’. (QS. asy-Syura [42]: 43)

Sabar dalam QS. asy-Syura ayat 43 menurut tafsir al-Ibriiz adalah tindakan yang tidak membalas dan memaafkan, dan benar-benar memaafkan adalah apa yang diharapkan sesuai syari’at.

Salah satu contoh kesabaran dalam ketaatan adalah seperti ketika seorang muslim menjalankan ibadah puasa maka ia akan bersabar hingga datang waktunya berbuka, ketika seorang muslimah mengenakan hijab maka ia pun harus bersabar apabila datang godaan-godaan untuk melepaskannya misal karena ia merasa kepanasan, dan ibadah lainnya. Maka dalam mengerjakan ketaatan diperlukan kesabaran hingga datang sesuatu yang pasti, yaitu kematian.

Salah satu bentuk sabar dalam ketaatan yang dicontohkan nabi Allah adalah kisah Nabi Dawud tentang ibadahnya dalam Alquran.

Siro sabaro, Muhammad! Kerungu ucapane wong-wong kafir iku, lan siro elingo kisahe kawulo ingsun Dawud kang duweni kekuwatan ibadah, temenan Nabi Dawud iku akeh depe-depene marang Allah Ta’ala. (Kisah) Nabi Dawud iku Nabi kang masyhur kuat ibadah, saben bengi, ajeg jungkung setengah wengi, nuli sare sakpertelone wengi, nuli tangi jungkung manehsak pro enem wengi, puasane abot banget, mergo sedino puoso sedino ora. (QS. Shad: 17)

Siro dhawuho Muhammad! (Yen Allah Ta’ala ngendiko kang surasane): He poro kawulo ingsun kang podho iman! Siro kabeh podhoho taqwa marang Pangeran siro kabeh (sarono tetep ninda’ake to’at) namung kaduwe wong-wong kang podho nindaake amal bagus ono ing dunyo iki, suwargo iku, lan bumine Allah Ta’ala iku jembar (mulane yen sekiro ora kuat manggon ono ing tengah munkarot-munkarot, siro kabeh podho pindaho). Namung wong-wong kang podho sabar (betah ngelakoni to’at lan nandang cobo-cobo) bakal dibayari ganjarane sarono tanpo itungan. (QS. Az-Zumar [39]: 10)

Pada QS. az-Zumar ayat 10 dalam tafsir al-Ibriiz, hanya orang-orang yang sabar tanpa batas (tahan melakukan ketaatan dan menerima cobaan) akan mendapat pahala tanpa batas pula.

2. Sabar dalam menginggalkan maksiat/dosa (‘Ala Tarkil Muharramat)

Setiap dari kita memiliki musuh dari luar maupun dari dalam yang senantiasa membisiki kita untuk berbuat maksiat dan mengajak kita untuk melakukan hal-hal yang buruk melanggar syari’at. Hawa nafsu misalnya, ia akan senantiasa ada dalam diri manusia untuk mengajak kita kepada keserakahan. Setan dalam Alquran sudah diterangkan bahwa ia adalah musuh yang nyata, maka tugasnya adalah membisiki manusia dan mengajaknya untuk berbuat maksiat.

Maka diperlukan kesabaran dalam meninggalkan kemaksiatan, sebab apabila ia tidak sabar maka tentu ia akan mengulanginya lagi. Seperti hal nya seseorang yang sedang bersabar untuk menahan diri dari bergunjing atau membicarakan orang lain, atau ketika ia sedang bersabar untuk tidak berbohong, maka sebenarnya ia sedang melakukan upaya pengendalian diri untuk meninggalkan kemaksiatan dengan bersabar.

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah [2]: 153)

Inilah mengapa untuk meninggalkan perbuatan maksiat dan dosa bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan kesabaran, sehingga derajat untuk meninggalkan kesabaran ini adalah 600 derajat.

Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S Hud: 115)

3. Sabar ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan

Ketika kita menjalani kehidupan ini dengan sejuta rencana terkadang hal-hal yang tidak diinginkan tetap terjadi, padahal sejatinya rencana Allah adalah rencana terbaik. Kemudian hal-hal yang tidak kita inginkan ini biasanya disebut dengan ujian, ia bisa datang berupa musibah ataupun kenyamanan yang melalaikan dari mensyukuri karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Bedho karo wong kang podho sabar nandang kemelaratan, lan podho ngamal sholih. Wong-wong kang mengkono sifate mau, wong-wong kang oleh pengapuran lan ganjaran kang gedhe.” (QS. Hud: 11)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 155)

Seperti halnya ujian kemiskinan kemudian orang tersebut bersabar dan tetap berusaha dalam menjalani hidupnya, maka orang-orang yang memiliki sifat demikian dalam QS. Hud: 11 adalah orang yang memperoleh ampunan dan mendapatkan pahala yang besar. Pada ayat lain dalam QS. Al-Imran: 125 dikatakan bahwa pertolongan Allah akan datang untuk orang yang sabar.

Iyo mesthi wus cukup, lamun siro kabeh podho sabar lan podho taqwa lan nuli musyrikin nyerbu marang siro kabeh, Allah Ta’ala bakal paring bantuan limang ewu prajurit saking malaikat. (QS. Al-Imran: 125)

Selain itu, balasan lain untuk orang-orang yang sabar adalah tempat tinggi dalam surga sebagaimana yang terdapat dalam QS. Al-Furqan: 75.

“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya”.

Pahamilah bahwa ketika kita sedang diuji, bukan karena Allah tidak cinta kepada hambaNya tetapi itu adalah tanda cintaNya, maka bersiaplah untuk menjalaninya dengan penuh kesabaran. Maka dari itu, Rasulullah pun ketika sedang diuji maka Rasul mengatakan “Alhamdulillah ‘Ala Kulli Hal”, Nabi senantiasa bersyukur atas setiap keadaannya yang dibebankan kedapanya karena Nabi paham bahwa itu adalah tanda cinta dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

وَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا ۖ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.” (QS. At-Tur: 48)

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita dalam QS. At-Tur ayat 48 bahwa ketika pengendalian diri yang sedang kita upayakan akan terkalahkan dengan emosi atau sesuatu yang akan menghilangkannya maka hendaklah kita mengingat bahwa kita senantiasa berada dalam penglihatan dan pengawasan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

@Nur Aeni (Semester 6)

Explore More

Janji-janjiNya di Waktu Senja

27/10/2021 0 Comments 0 tags

Keindahan merupakan sifat, ciri dari orang, hewan, tempat, objek, atau gagasan yang memberikan pengalaman persepsi kesenangan, kepuasan, ataupun bermakna. Dalam artian lain diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, dan

Penafsiran Ayat-Ayat Toleransi dalam Surat Al-Baqarah Menurut KH. Bisri Musthofa dalam Tafsir Al-Ibriz

13/10/2021 0 Comments 0 tags

Tafsir al-Ibriz ini bisa dikatakan sebagai terjemah dan tafsir. Pengarang sendiri menyebutnya sebagai terjemah. Namun jika dilihat dari konten yang ada, Kiai Bisri sering kali melakukan penafsiran terhadap beberapa ayat

LOMBA DENGAN PEMUNGUTAN UANG

30/03/2021 0 Comments 0 tags

Oleh: Nur Laili Fitriany   Perlombaan dalam Islam disebut dengan istilah “Ju’al” dan hukumnya boleh. Pada hakikatnya praktek Ju’al (perlombaan) adalah seseorang mengumumkan kepada khalayak bahwa siapa yang bisa menang